Iwan Fals
JAKARTA
– Iwan Fals masih digemari banyak orang. Kenyataan yang tak patut disangkal, bila Anda menonton tayangan langsung ”1 Jam Bersama Iwan Fals”, Rabu (25/6) malam di Indosiar. Bayangkan, pemusik protes sosial yang dinilai menurun wibawanya di masa reformasi, ternyata tetap disanjung penonton yang melimpah hingga parkir muka Indosiar. Meski mereka hanya bertatap muka dengan Iwan Fals melalui pesawat televisi, yang mungkin lebih nyaman kalau dinikmati di tempat tinggalnya sendiri.Seperti biasa, mereka bergaya demonstratif dengan spanduk pemujaan, bendera domisili, dan berbagai atribut kesetiaan. Mereka ikut serta bernyanyi lantang, dan bertepuk sorak pertanda sukacita. Nilai penjualan kaset dan CD-nya yang kini bisa anjlok di bawah 700.000 – 800.000 kopi jadi tak sebanding dengan gairah sambutan penonton di malam itu.
Area studio I di mana segalanya berpusat, tak kalah seru. Mereka selaku undangan resmi, tak sanggup menutup sikap fanatis. Ketika kamera Indosiar menangkap perilaku mereka, sebagian cenderung menyambutnya dengan ”kegilaan” yang kocak. Mungkin hanya konser dangdut, Slank dan Inul Daratista yang mampu mengimbangi keadaan semacam itu. Lihatlah, bahkan Dik Doank ”tergila-gila” dan terhanyut impresi kritik sosial, cinta dewasa, dan dinamika kehidupan manusia dari nyanyian Iwan Fals seperti ”Suara Hati”, ”Wakil Rakyat”, ”Guru Oemar Bakri”, ”Bento” hingga yang terbaru, ”Aku Bukan Pilihan” dan ”Senandung Lirih”.
Bukan hanya Dik Doank yang datang ke tengah luapan simpati dan kangen total pada ”Pahlawan Besar Asia” versi majalah Time tahun lalu itu, karena ada sejumlah artis pemusik yang juga ikut bergabung selaku penonton, antara lain Adon ”Base Jam”, Ferdy Tahier (vokalis Element), ”Peterpan”, hingga Guruh Sukarno Putra yang berkomentar ihwal talenta Iwan Fals, ide kreatifnya, inspirasi kritik sosial, dan kalangan penggemarnya yang kelas menengah ke bawah.
Guruh terlihat antusias menyimak Iwan yang berdendang polos dan apa adanya. Andalannya tetap pada kematangan vokal, ekspresi musikal, dan ketajaman lirik. Mungkin Guruh (sebagai anggota DPR) lumayan terjebak dengan muatan lagu ”Wakil Rakyat”, yang ternyata tak berhenti pada lirik aslinya. Seperti kenyataan yang disinggung Iwan pada anggota DPR masa kini, yakni tak hanya tertidur saat bersidang, akan tetapi malah mangkir atau tak hadir di ruang persidangan. Bahkan penonton mengimbuh liriknya dengan sentilan menilep uang rakyat.
Tempat Istimewa
Daya tarik lain dari ”1 Jam Bersama Iwan Fals” adalah cerita-cerita di balik perjalanan karier dan kehidupan Iwan yang ternyata belum banyak diketahui orang. Seperti kenyataan Iwan yang tak doyan menyantap nasi, tetapi hanya biskuit dan pisang ambon hingga umur 12 tahun. Ibunya juga menceritakan ihwal Iwan yang dinilai pendiam dan suaranya tak sebagus adik-adiknya, akan tetapi kini malah berkarier sebagai penyanyi dan memiliki tempat istimewa dalam sejarah musik pop
Indonesia
. Lagu-lagunya selalu disambut antusias oleh kalangan penggemarnya, apalagi sebagian menyentuh sikap pembelaan bagi rakyat kecil.
Namun muncul pertanyaan kenapa Iwan Fals menjadi kendor dalam penciptaan lagu protes sosial. Apa jawabnya? Seperti yang telah diduga, Iwan Fals juga terkena imbas dari perilaku sosial masyarakat Indonesia saat ini yang jadi terbiasa menerima atau mendengar protes dan kritik sosial di mana-mana, mulai dari suara radio, tayangan televisi, berita Internet hingga media cetak.
Dia mengaku masih membuat karya lagu kritik sosial, tetapi dengan renungan dan hakikatnya. Kini dia jadi berbeda memandang alam lingkungan, dan membuka literatur buku yang membawa kesegaran baru pada kehidupannya sekarang.
Mungkin suatu saat, kalau harapan kepastian hukum telah hadir, dirinya akan kembali ke karya lagu yang membawakan potret sosial. ”Kalau sekarang saya melakukannya, sama seperti membuang garam ke laut,” ungkap Virgiawan Listanto, nama lahir Iwan Fals.Kolaborasi
Saat itu, Iwan juga menyinggung album terbarunya yang berkolaborasi dengan Pongki ”Jikustik”, Eross ”SO7”, Kikan ”Cokelat”, dan Padi. Meski sejak pertama kali bermusik sudah banyak melakukan kolaborasi, di antaranya dengan kelompok seniman Amburadul, KPJ, Kereta, Swami, Kelompok Hijau, Kantata, dan Dalbo. Dia mengaku tetap gembira melakukan itu, dan menyayangkan hanya bisa menerbitkan 10 lagu, karena banyak musisi lain yang ternyata ingin terlibat di dalamnya.
”Kalau diteruskan bakal seru, bila perlu dengan tokoh politik dan pers yang berminat. Saya menyediakan tempat untuk berkolaborasi, selain tetap mengeluarkan album solo,” kata lelaki kelahiran
Jakarta, 3 September 1961 itu.
Banyak aransemen riuh dan bergembira di album terbitan Musica Studio itu. Lagu yang dipilih banyak beat-nya dan bertema cinta.
Diceritakannya tentang ”Aku Bukan Pilihan” karya Pongki, yang membuatnya tertantang membawakan lagu bertema poliandri, atau lelaki yang diduakan cintanya.
”Meski ada sebagian syair yang diganti liriknya,” sambung Iwan.
Dikisahkan pula perjumpaan pertamanya dengan Eross, yang ujungnya membuahkan karya lagu Eross buat Iwan, yakni ”Senandung Lirih”.
”Awalnya dimulai di ruang rias Indosiar, ketika itu Eross datang untuk minta tanda tangan di gitar Gibson-nya. Saya tergetar dengan permintaannya itu. Lalu saya mencari kesempatan untuk minta membuatkan lagu. Kali itu gantian Eross yang kaget. Terus terang saya suka lagunya itu, karena mampu menyelesaikan persoalan cinta,” ceritanya.
Album terbarunya itu juga menjanjikan kebahagiaan lain bagi Iwan Fals, karena sudah mendapatkan order pertama sebanyak 180.000 kopi. Memang, masih ada matahari kebaikan buat musisi setangguh Iwan Fals.
