16
Jun
08

Iwan Fals, Wibawanya Tetap Disanjung


 Iwan Fals

JAKARTA

– Iwan Fals masih digemari banyak orang. Kenyataan yang tak patut disangkal, bila Anda menonton tayangan langsung ”1 Jam Bersama Iwan Fals”, Rabu (25/6) malam di Indosiar. Bayangkan, pemusik protes sosial yang dinilai menurun wibawanya di masa reformasi, ternyata tetap disanjung penonton yang melimpah hingga parkir muka Indosiar. Meski mereka hanya bertatap muka dengan Iwan Fals melalui pesawat televisi, yang mungkin lebih nyaman kalau dinikmati di tempat tinggalnya sendiri.Seperti biasa, mereka bergaya demonstratif dengan spanduk pemujaan, bendera domisili, dan berbagai atribut kesetiaan. Mereka ikut serta bernyanyi lantang, dan bertepuk sorak pertanda sukacita. Nilai penjualan kaset dan CD-nya yang kini bisa anjlok di bawah 700.000 – 800.000 kopi jadi tak sebanding dengan gairah sambutan penonton di malam itu.
Area studio I di mana segalanya berpusat, tak kalah seru. Mereka selaku undangan resmi, tak sanggup menutup sikap fanatis. Ketika kamera Indosiar menangkap perilaku mereka, sebagian cenderung menyambutnya dengan ”kegilaan” yang kocak. Mungkin hanya konser dangdut, Slank dan Inul Daratista yang mampu mengimbangi keadaan semacam itu. Lihatlah, bahkan Dik Doank ”tergila-gila” dan terhanyut impresi kritik sosial, cinta dewasa, dan dinamika kehidupan manusia dari nyanyian Iwan Fals seperti ”Suara Hati”, ”Wakil Rakyat”, ”Guru Oemar Bakri”, ”Bento” hingga yang terbaru, ”Aku Bukan Pilihan” dan ”Senandung Lirih”.
Bukan hanya Dik Doank yang datang ke tengah luapan simpati dan kangen total pada ”Pahlawan Besar Asia” versi majalah Time tahun lalu itu, karena ada sejumlah artis pemusik yang juga ikut bergabung selaku penonton, antara lain Adon ”Base Jam”, Ferdy Tahier (vokalis Element), ”Peterpan”, hingga Guruh Sukarno Putra yang berkomentar ihwal talenta Iwan Fals, ide kreatifnya, inspirasi kritik sosial, dan kalangan penggemarnya yang kelas menengah ke bawah.
Guruh terlihat antusias menyimak Iwan yang berdendang polos dan apa adanya. Andalannya tetap pada kematangan vokal, ekspresi musikal, dan ketajaman lirik. Mungkin Guruh (sebagai anggota DPR) lumayan terjebak dengan muatan lagu ”Wakil Rakyat”, yang ternyata tak berhenti pada lirik aslinya. Seperti kenyataan yang disinggung Iwan pada anggota DPR masa kini, yakni tak hanya tertidur saat bersidang, akan tetapi malah mangkir atau tak hadir di ruang persidangan. Bahkan penonton mengimbuh liriknya dengan sentilan menilep uang rakyat.

Tempat Istimewa
Daya tarik lain dari ”1 Jam Bersama Iwan Fals” adalah cerita-cerita di balik perjalanan karier dan kehidupan Iwan yang ternyata belum banyak diketahui orang. Seperti kenyataan Iwan yang tak doyan menyantap nasi, tetapi hanya biskuit dan pisang ambon hingga umur 12 tahun. Ibunya juga menceritakan ihwal Iwan yang dinilai pendiam dan suaranya tak sebagus adik-adiknya, akan tetapi kini malah berkarier sebagai penyanyi dan memiliki tempat istimewa dalam sejarah musik pop

 

Indonesia

. Lagu-lagunya selalu disambut antusias oleh kalangan penggemarnya, apalagi sebagian menyentuh sikap pembelaan bagi rakyat kecil.
Namun muncul pertanyaan kenapa Iwan Fals menjadi kendor dalam penciptaan lagu protes sosial. Apa jawabnya? Seperti yang telah diduga, Iwan Fals juga terkena imbas dari perilaku sosial masyarakat Indonesia saat ini yang jadi terbiasa menerima atau mendengar protes dan kritik sosial di mana-mana, mulai dari suara radio, tayangan televisi, berita Internet hingga media cetak.
Dia mengaku masih membuat karya lagu kritik sosial, tetapi dengan renungan dan hakikatnya. Kini dia jadi berbeda memandang alam lingkungan, dan membuka literatur buku yang membawa kesegaran baru pada kehidupannya sekarang.
Mungkin suatu saat, kalau harapan kepastian hukum telah hadir, dirinya akan kembali ke karya lagu yang membawakan potret sosial. ”Kalau sekarang saya melakukannya, sama seperti membuang garam ke laut,” ungkap Virgiawan Listanto, nama lahir Iwan Fals.Kolaborasi
Saat itu, Iwan juga menyinggung album terbarunya yang berkolaborasi dengan Pongki ”Jikustik”, Eross ”SO7”, Kikan ”Cokelat”, dan Padi. Meski sejak pertama kali bermusik sudah banyak melakukan kolaborasi, di antaranya dengan kelompok seniman Amburadul, KPJ, Kereta, Swami, Kelompok Hijau, Kantata, dan Dalbo. Dia mengaku tetap gembira melakukan itu, dan menyayangkan hanya bisa menerbitkan 10 lagu, karena banyak musisi lain yang ternyata ingin terlibat di dalamnya.
”Kalau diteruskan bakal seru, bila perlu dengan tokoh politik dan pers yang berminat. Saya menyediakan tempat untuk berkolaborasi, selain tetap mengeluarkan album solo,” kata lelaki kelahiran

 

Jakarta, 3 September 1961 itu.
Banyak aransemen riuh dan bergembira di album terbitan Musica Studio itu. Lagu yang dipilih banyak beat-nya dan bertema cinta.
Diceritakannya tentang ”Aku Bukan Pilihan” karya Pongki, yang membuatnya tertantang membawakan lagu bertema poliandri, atau lelaki yang diduakan cintanya.
”Meski ada sebagian syair yang diganti liriknya,” sambung Iwan.
Dikisahkan pula perjumpaan pertamanya dengan Eross, yang ujungnya membuahkan karya lagu Eross buat Iwan, yakni ”Senandung Lirih”.
”Awalnya dimulai di ruang rias Indosiar, ketika itu Eross datang untuk minta tanda tangan di gitar Gibson-nya. Saya tergetar dengan permintaannya itu. Lalu saya mencari kesempatan untuk minta membuatkan lagu. Kali itu gantian Eross yang kaget. Terus terang saya suka lagunya itu, karena mampu menyelesaikan persoalan cinta,” ceritanya.
Album terbarunya itu juga menjanjikan kebahagiaan lain bagi Iwan Fals, karena sudah mendapatkan order pertama sebanyak 180.000 kopi. Memang, masih ada matahari kebaikan buat musisi setangguh Iwan Fals.

 

 

 

14
Jun
08

SEjaRaH LoGo Oi….

[SEJARAH LOGO Oi dan PROFIL PEMBUATNYA]

 

Logo dan bendera Oi telah menjadi magis. Tak hanya dalam konser Iwan Fals, bahkan bendera Oi seringkali berkibar-kibar dengan perkasa di saat konser penyanyi lain. Logo Oi sudah menjadi identitas bagi mereka yang mencintai karya-karya Iwan Fals, juga bagi mereka yang menjadikan kesenian sebagai salah satu sarana untuk memaknai kehidupan, untuk menemukan makna kehidupan.

Logo Oi memiliki format standar. Dalam beberapa kesempatan sering ditemui logo Oi yang tidak standar. Format standar logo Oi dapat diklik pada gambar logo Oi untuk memperbesar.

Lantas bagaimana sejarah logo Oi hingga tercipta? Siapa sebenarnya pembuatnya? Berikut paparannya.

 

SEJARAH LOGO Oi

Lomba Desain Logo Oi yang diselenggarakan oleh Yayasan Orang Indonesia (YOI) diikuti ratusan peserta Silaturahmi Nasional Oi 1999 di Desa Leuwinanggung No 19, Cimanggis, Depok, Jawa Barat (Kediaman Iwan Fals) pada hari Minggu (15/8/1999) dan Senin (16/8/1999). Setiap peserta maksimal membawa 2 buah karya logo Oi.

Dalam Lomba Desain Logo Oi terpilih 2 Logo Oi karya HiO Ariyanto dari Oi Bento House Solo sebagai Juara I dan II. Penentuan pemenang Lomba Logo Oi sebagai Juara I dan II ditentukan oleh para peserta Peserta Silaturahmi Nasional Oi 1999 melalui polling dan pemilihan oleh semua peserta Silaturahmi Nasional Oi 1999.

Logo Oi karya HiO Ariyanto yang mendapat Juara I, mulai 16 Agustus 1999 (bertepatan dengan Hari Jadi Oi) dipergunakan sebagai logo resmi Organisasi Penggemar Iwan Fals atau biasa disebut Oi. Selain itu, dalam Silaturahmi Nasional Oi 1999 Lagu “Oi” karya Digo Dzulkifli dari Oi Bandung terpilih sebagai Pemenang Lomba Cipta Lagu Mars Oi. Dan ditetapkan sebagai Lagu Mars Oi.

 

 PROFIL SINGKAT PENCIPTA LOGO Oi

 

·     Nama : Is Ariyanto

·     Panggilan : HiO Ariyanto

·     Pekerjaan : Staff Redaksi Harian Umum SOLOPOS

·     Alamat : Kartotiyasan RT 04/4, Jalan Manduro III, Gang: Merdeka, Kratonan, Serengan, Solo 57153

·     Email : oibentohouse@yahoo.com: oibentohouse@gmail.com

Sampai saat ini aktif sebagai: Ketua Oi Bento House, Manager Oi Bento House Band, Ketua Solo Kartunis (Sloki)

 

PERJALANAN SANG PENCIPTA LOGO Oi :

·     1997, Karya Kartun Terbaik Lomba Kartun MDS Beteng Solo

·     1999, Juara I & II Desain Logo Oi

·     1999, Pelopor berjualan kaos & merchandiser Iwan Fals & Oi

·     2000, Juara I Lomba Karikatur Jambore Nasional Oi di Cibubur

·     2003, Rekor Republik Aeng-Aeng: untuk Kategori Pelopor Kartun 3 Dimensi di Solo

·     2003, Juara Favorit “Sensasi Biru Indonesia” (Launching Rokok Bentoel Biru) di Solo Bersama Tim Oi Bento House

·     2004, Rekor Republik Aeng-Aeng: Konser Musik Parade Band Oi dari jam 10.00 Pagi-10.00 Malam (14 band membawa lagu-lagu Iwan Fals yang berbeda sebanyak 75 lagu)

·     2004, Juara I & II Desain Logo Ikatan Karyawan sebuah toko retail terbesar di Solo

·     2005, Kartun karakter “Si Thole” dipakai sebagai maskot Lomba Balita & Anak Balita SOLOPOS. [redaksi] ***

 

 

13
Jun
08

Jendral Tua

Jendral Tua
Iwan Fals 2008

(Dinyanyikan pada konser ‘Untukmu Negeri’ 15 Maret 2008 di Leuwinanggung)

Jendral tua ditengah keluarga
Tersenyum dingin memandang kamera
Istrinya manis, adik dan anaknya dipenjara
Apa jadinya, dan apa isi hatinya

Jendral tua masih tampan dan perkasa
Tersebar kabar banyak yang jatuh cinta
Oh medan laga, memandang minta digoda
Oh turut serta, pada perang saudara

Jendral tua belepot jasa di dadanya
Menagih janji pada ibu pertiwi
Mungkinkah dia, seorang prajurit sejati
Kalaulah iya, wah sungguh celaka

Jendral tua legenda hidup nyata
Ahli strategi dan sudah teruji
Meratap sepi, didalam kamarnya sendiri
Masihkah dia, tergoda oleh dunia

Jendral tua semoga kuat imanmu
Tetaplah begitu dan tetap disitu
Cahaya itu, ingat anakmu pada bapakmu
Tetap begitu, tetap di pertapaan sucimu

Jendral tua kini tinggal cerita
Diperut Lawu rumah abadimu
Janjikan madu, dan racun bagi anak cucumu
Bagai sembilu, perih tegur langsung sungkur
Tinggalkan soal, yang rumit bagi para begundal
Semoga saja, yang ditinggal tak jadi sundal
Sundal…!

“…penginnya berpanjang-panjang, tapi yah kenyataan hidup seperti ini ya?…”




Tanggalan

September 2016
S S R K J S M
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Arsip

Blog St

  • 2,539 hits

Klik tertinggi

  • Tak ada